Thursday, October 28, 2021

Sempat Ramai Beberapa Tahun Lalu, Inilah Penyebab Game Haram

Beberapa tahun yang lalu masyarakat di Indonesia sempat dihebohkan dengan kabar mengenai game haram yang tertuju pada PUBG, Free Fire, dan lain sebagainya. Larangan bermain game ini pada awalnya berasal dari daerah Aceh yang cukup kental agama Islamnya. Hal ini kemudian menimbulkan rasa penasaran mengenai penyebabnya.

Penyebab Game Haram

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai penyebab dari berita game haram tersebut. Ini dia penyebab yang bisa dirangkumkan untuk Anda:

  1. Munculnya Kasus Penembakan di Selandia Baru karena Terinspirasi Game PUBG

Awal dari munculnya fatwa haram bermain game ini adalah adanya kasus penembakan yang terjadi di Selandia Baru. Tepatnya pada hari Jumat tanggal 15 Maret 2019 seorang teroris melakukan penembakan di dua masjid di Christchurch Tengah, Selandia Baru.

Pada kasus tersebut diketahui sebanyak 49 orang tewas. Menurut kabar yang beredar, Terrant yang merupakan pelaku teroris tersebut melakukan tindakan itu karena terinspirasi oleh PUBG.

Akan tetapi pernyataan tersebut dianggal tidak benar oleh media lokal di sana. Dikatakan bahwa pernyataan tersebut terpotong sehingga tidak sesuai dengan fakta yang ada.

  1. Target Penyerangan PUBG Seperti Simbol Ka’ bah

Masih terjadi pada sekitar bulan Maret 2019, dunia kembali dihebohkan mengenai target penyerangan yang ada di permainan PUBG adalah Ka’ bah. Perlu diketahui bahwa Ka’ bah merupakan kiblat dari seluruh umat Islam di dunia. Akan tetapi simbol tersebut sudah melukai hati banyak umat muslim seluruh dunia.

Para gamers melakukan protes kepada PUBG untuk menarik ikon yang mirip dengan Ka’ bah tersebut dan tidak menggunakannya lagi di dalam game. Selain itu, banyak orang yang juga menyuarakan pemboikotan PUBG karena dirasa telah menghina agama Islam.

Setelah hal tersebut terjadi, pengembang gam PUBG ini langsung mendesain ulang ikon tersebut dan tidak menjadikannya target penyerangan lagi. Setelah itu, PUBG terus digunakan dan hingga saat ini masih memiliki banyak penggemar.

  1. Game (PUBG) Dianggap Mengajarkan Kekerasan pada Anak

Masih berkaitan pada dua hal di atas, PUBG dianggap mengajarkan kekerasan kepada anak. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa game seperti Free Fire dan PUBG memiliki konten kekerasan. Pada game ini dipenuhi dengan berbagai aksi seperti menembak, memukul, dan lain sebagainya.

Alasan diharamkannya permainan ini adalah anak-anak yang belum memiliki pikiran yang matang hanya mencernanya secara mentah-mentah. Anak-anak bisa melakukan kekerasan yang terinspirasi oleh game-game tersebut.

Terkait hal tersebut khususnya PUBG sudah mengubah ratingnya yaitu minimal untuk anak 16 tahun ke atas. Tapi sayangnya untuk Free Fire masih bisa digunakan untuk anak berusia 12 tahun ke atas.

  1. Dianggap Tidak Berguna untuk Anak-anak

Khususnya di Aceh, pelarangan game-game semacam ini dianggap tidak berguna untuk anak-anak. Banyak anak yang bolos sekolah dan pergi ke warnet untuk bermain game. Hal ini juga hanya membuang-buang waktu saja.

Pihak yang berwenang di Aceh menganggap game tidak ada manfaatnya untuk anak-anak karena tidak berisi konten yang mendidik. Bahkan tindak lanjut dari hal tersebut, Aceh melarang warnet untuk menutup komputer dengan menggunakan bilik.

Pihak perwakilan ulama di Aceh juga berharap pemerintah bisa memblokir permainan-permainan yang mengajarkan kekerasan baik fisik maupun psikologi kepada generasi muda Indonesia.

  1. Game Dianggap Bisa Mengubah Sikap Anak

Masih sangat berkaitan dari poin yang ketiga, game dapat mengubah sikap anak menjadi lebih brutal. Game membuat banyak anak-anak kecanduan sehingga tidak dapat melakukan kontrol yang baik.

Game haram merupakan game yang berisi konten tak bermanfaat seperti kekerasan, pornografi, horor, dan sebagainya. Dan game dengan isi kekerasan dapat menanamkan sikap radikal. Ditakutkan hal tersebut dapat menumbuhkan karakter sebagai teroris.

Jadi, itu dia alasan di balik game haram yang sempat ramai diperbincangkan di beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, pada akhirnya game-game itu boleh dilakukan asalkan tidak menimbulkan dampak negatif yang membuatnya menjadi haram. Game-game tersebut sebaiknya dimainkan oleh orang yang sudah lebih dari 18 tahun atau dengan pengawasan orang tua.

Beberapa tahun yang lalu masyarakat di Indonesia sempat dihebohkan dengan kabar mengenai game haram yang tertuju pada PUBG, Free Fire, dan lain sebagainya. Larangan bermain game ini pada awalnya berasal dari daerah Aceh yang cukup kental agama Islamnya. Hal ini kemudian menimbulkan rasa penasaran mengenai penyebabnya.

Penyebab Game Haram

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai penyebab dari berita game haram tersebut. Ini dia penyebab yang bisa dirangkumkan untuk Anda:

  1. Munculnya Kasus Penembakan di Selandia Baru karena Terinspirasi Game PUBG

Awal dari munculnya fatwa haram bermain game ini adalah adanya kasus penembakan yang terjadi di Selandia Baru. Tepatnya pada hari Jumat tanggal 15 Maret 2019 seorang teroris melakukan penembakan di dua masjid di Christchurch Tengah, Selandia Baru.

Pada kasus tersebut diketahui sebanyak 49 orang tewas. Menurut kabar yang beredar, Terrant yang merupakan pelaku teroris tersebut melakukan tindakan itu karena terinspirasi oleh PUBG.

Akan tetapi pernyataan tersebut dianggal tidak benar oleh media lokal di sana. Dikatakan bahwa pernyataan tersebut terpotong sehingga tidak sesuai dengan fakta yang ada.

  1. Target Penyerangan PUBG Seperti Simbol Ka’ bah

Masih terjadi pada sekitar bulan Maret 2019, dunia kembali dihebohkan mengenai target penyerangan yang ada di permainan PUBG adalah Ka’ bah. Perlu diketahui bahwa Ka’ bah merupakan kiblat dari seluruh umat Islam di dunia. Akan tetapi simbol tersebut sudah melukai hati banyak umat muslim seluruh dunia.

Para gamers melakukan protes kepada PUBG untuk menarik ikon yang mirip dengan Ka’ bah tersebut dan tidak menggunakannya lagi di dalam game. Selain itu, banyak orang yang juga menyuarakan pemboikotan PUBG karena dirasa telah menghina agama Islam.

Setelah hal tersebut terjadi, pengembang gam PUBG ini langsung mendesain ulang ikon tersebut dan tidak menjadikannya target penyerangan lagi. Setelah itu, PUBG terus digunakan dan hingga saat ini masih memiliki banyak penggemar.

  1. Game (PUBG) Dianggap Mengajarkan Kekerasan pada Anak

Masih berkaitan pada dua hal di atas, PUBG dianggap mengajarkan kekerasan kepada anak. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa game seperti Free Fire dan PUBG memiliki konten kekerasan. Pada game ini dipenuhi dengan berbagai aksi seperti menembak, memukul, dan lain sebagainya.

Alasan diharamkannya permainan ini adalah anak-anak yang belum memiliki pikiran yang matang hanya mencernanya secara mentah-mentah. Anak-anak bisa melakukan kekerasan yang terinspirasi oleh game-game tersebut.

Terkait hal tersebut khususnya PUBG sudah mengubah ratingnya yaitu minimal untuk anak 16 tahun ke atas. Tapi sayangnya untuk Free Fire masih bisa digunakan untuk anak berusia 12 tahun ke atas.

  1. Dianggap Tidak Berguna untuk Anak-anak

Khususnya di Aceh, pelarangan game-game semacam ini dianggap tidak berguna untuk anak-anak. Banyak anak yang bolos sekolah dan pergi ke warnet untuk bermain game. Hal ini juga hanya membuang-buang waktu saja.

Pihak yang berwenang di Aceh menganggap game tidak ada manfaatnya untuk anak-anak karena tidak berisi konten yang mendidik. Bahkan tindak lanjut dari hal tersebut, Aceh melarang warnet untuk menutup komputer dengan menggunakan bilik.

Pihak perwakilan ulama di Aceh juga berharap pemerintah bisa memblokir permainan-permainan yang mengajarkan kekerasan baik fisik maupun psikologi kepada generasi muda Indonesia.

  1. Game Dianggap Bisa Mengubah Sikap Anak

Masih sangat berkaitan dari poin yang ketiga, game dapat mengubah sikap anak menjadi lebih brutal. Game membuat banyak anak-anak kecanduan sehingga tidak dapat melakukan kontrol yang baik.

Game haram merupakan game yang berisi konten tak bermanfaat seperti kekerasan, pornografi, horor, dan sebagainya. Dan game dengan isi kekerasan dapat menanamkan sikap radikal. Ditakutkan hal tersebut dapat menumbuhkan karakter sebagai teroris.

Jadi, itu dia alasan di balik game haram yang sempat ramai diperbincangkan di beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, pada akhirnya game-game itu boleh dilakukan asalkan tidak menimbulkan dampak negatif yang membuatnya menjadi haram. Game-game tersebut sebaiknya dimainkan oleh orang yang sudah lebih dari 18 tahun atau dengan pengawasan orang tua.

Read  Cara Mengobati Gusi Bengkak

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

FansLike
2,997FollowersFollow
SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles

Read  Cara Daftar CPNS 2021 Lulusan SMK